CIRI-CIRI BABY BLUES MENYERANG WANITA PASCA MELAHIRKAN
Mungkin banyak dari kita masih asing dengan “baby blues”. Dan mungkin ada juga sebagian kita, baru pertama kali mendengar penyakit ini.
Baiklah, sini saya jelasin.
Baby blues adalah gangguan perasaan atau jiwa seorang wanita pasca persalinan. Penyakit ini mungkin terbilang tidak berbahaya jika masih level rendah. Namun, jika dibiarkan atau tidak segera diatasi, kemungkinan penyakit ini dapat mengancam jiwa si ibu dan bayinya.
Memang, tidak semua ibu baru atau wanita pasca persalinan akan mengalami ini. Ada juga mereka yang sudah memiliki 2 atau 3 anak, baru merasakan baby blues tersebut. Dan penelitian mencatat, hampir kebanyakan wanita pasca melahirkan mengalami baby blues.
- Bagaimana Gejalanya
Jika dilihat dari kondisi fisik si penderita, memang tidak terlihat. Sebab, penyakit ini menyerang psikologis sang ibu muda.
Biasanya, gejala baby blues ini seperti;
- Sedih tanpa sebab
- Malas dekat dengan anak sendiri
- Khawatir berlebihan tentang bayinya
- Mudah emosi, dsb.
Bila ingin lebih jelas lagi, boleh Googling ya...
- Pengalaman Sendiri
Nah, dari gejala baby blues yang saya ketahui sebelum melahirkan, saya tidak percaya kalau baby blues itu benar-benar nyata.
Mungkin, jika sebelum melahirkan, saya sudah mempersiapkan ilmunya. Maka, baby blues ini tidak akan menyerang saya. Kenapa? Sebab, saya merasa, mengurus bayi itu mudah, dan menyusui itu bisa dengan sendirinya (natural). Alhasil, masa hamil kemarin, saya hanya mencari info seputar kehamilan saja.
Qadarullah...
Ketika proses persalinan tiba. Saya masih speechless dengan keadaan sendiri; sudah menjadi seorang Ibu dan punya bayi.
Karena tidak adanya pengetahuan (belum mencari ilmunya) tentang per-ASI-an. Kala itu, bayi saya nangis tengah malam —masih di RS. Justru yang ada dalam pikiran saya memanggil suster untuk menggendongnya atau membetulkan kain bedongnya. Masih belum kepikiran untuk memberi ASI, meski para suster banyak berkata demikian.
Akhirnya, ketika bayi saya benar-benar haus. ASI saya belum keluar. Bahkan para bidan di RS mengedukasi saya soal ini dan tidak berhasil. Dan pada akhirnya, bayi saya diberi sari kurma (bukan sama bidan dan anjurannya ya).
Lalu di rumah, saya menggunakan pompa. Alhamdulillah, ada, meski masih sedikit. Tetapi masih kurang, dan ia pun terus menangis sekuat yang ia bisa karena tidak kenyang. Kemudian, selagi suami menenangkan tangisan bayi, saya pun sekuat tenaga memompa ASI kembali —dengan manual. Namun, hasilnya pun tak sebanyak yang diinginkan bayi kami.
Dan pada akhirnya, kami beri tambahan, yaitu, susu formula (sufor). Jadi, ASI memang kami utamakan. Namun kalau baby Z tidak cukup kenyang, maka sufor menjadi pendampingnya. Tetapi, sempat khawatir juga. Ketika kami menyodorkan ASI, baby Z menolak. Sementara sufor, dia langsung melahapnya. Dan timbullah kecemasan kami. Takut jika baby Z sudah keenakkan sufor, sehingga ASI pun dia tolak.
Dengan rasa cemas tersebut. Akhirnya saya berusaha memompa ASI lebih sering dengan durasi lebih lama. Jam istirahat yang seharusnya bisa gunakan untuk tidur, saya pakai untuk memompa ASI. Begitulah beberapa hari dan sepanjang hari, 24 jam terus memompa.
Kan seharusnya baby Z tidur, emaknya ikut istirahat, donk. Tetapi saya tidak. Itulah masa-masa saya untuk memompa ASI. Karena takut baby Z kecanduan sufor.
Dan begitulah seterusnya di hari-hari berikutnya. Hingga hari ke 3, saya mulai jenuh dengan memompa ASI terus menerus. Apalagi dengan cara manual (pegalnya luar biasa) dan bahkan PD pun mulai sakit sekali.
Dan pada akhirnya, rasa lelah, cemas, kurang tidur, melihat bayi menangis yang tak berhenti inginkan ASI, kesal, ditambah beban pikiran. Kemudian rasa bersalah karena tak becus menjadi seorang ibu, merasa bodoh dengan diri sendiri, dan sebagainya.
Entah mengapa, tubuh saya lemas. Saya tersandar sambil menatap baby Z yang sedang tidur dari kejauhan, dan akhirnya air mata saya tumpah. Saya tidak mau memompa ASI lagi. Dalam hati berkata, “biarkan aja dia nangis situ. Kasi kan aja sufor banyak-banyak biar dia puas.” Dengan rasa kesal saya menggerutu terhadap diri sendiri yang tak mampu menjadi Ibu yang baik. Terus menangis karena merasa bersalah kenapa tidak mencari ilmu tentang menyusui sejak awal. Terus menangis karena bersalah sudah meracuni baby Z.
Ya Allah... baru itulah saya merasa depresi/ setres. Ditambah dengan keadaan yang tak ada siapa-siapa yang bisa mendengarkan keluh kesah saya. Sementara Pak Mam, kala itu sedang berkata yang tak mengenakkan hati. Tetapi setelah ia melihat saya menangis saat itu, ia pun berkata tak bermaksud seperti itu (seperti apa yang saya pikirkan) terhadap ucapannya —jadi, karena setres ucapan suami pun menjadi negatif bagi saya— padahal tidak demikian.
Selanjutnya, di hari ke 4. Qadarullah, Allah bimbing langkah seorang nenek (tetangga sebelah) untuk berkunjung ke rumah kami —untuk melihat baby Z. Dan entah bagaimana, saya pun meluapkan kegelisahan saya. Lalu, nenek tersebut membantu saya. Ia memegangi baby Z dan menyodorkan mulut baby Z ke PD saya, agar dia terbiasa. Dan tak lama setelah itu, baby Z mulai mengisap makanannya dengan lahap.
Masya Allah... rasanya beban yang menggantung di pundak dan otak, seketika menghilang saat melihat baby Z melahap ASI nya dengan semangat. Dan Alhamdulillah, saat itu juga ASI nya semakin banyak mengalir.
Sungguh perjuangan yang tak mudah. Yang awalnya saya sepele dengan fase menyusui —bahkan tak berekspektasi sedikit pun— karena saya anggap, saya bisa dengan sendirinya dan insting seorang Ibu.
Allahu Akbar. Itu salah besar. Jangan dicontoh ya dears. Jadi sebaiknya bekali senjata sebelum bertempur, alias ilmu. Dan bodohnya dan tipe saya, selalu mencari/ menambah ilmu kalau sudah di situasinya. Jadi, masalahnya sudah terjadi. Baru sibuk cari solusi. Dan begitulah saya.
Don’t try at home ya dears...!!
LAMTEUMEN TIMUR
Selasa, 20/10/2020
Hehe kami gitu juga ca sejak dia lahir langsung kami kasikan susu formula , sampe abis satu kotak.
ReplyDeleteKami bnyak berusaha untuk kasi susu ibu akhirnya berhasil.
Apa lagi ditambah makan sayuran bayam, pucuk katu, dll di tambah lagi minum jamu selama masa nifas, setelahnya 3x sehari itu lahap si baby. Dn smpe sekarang masih asi batas yg dianjurkan hehe
sama juga kami mas. udah sekotak dalam 3 hari. hari ke 4 baru bisa dia ASI. siiip...kami coba lah nanti.
ReplyDelete